Articles by "Daerah"

Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan


AGAM - Kasus keracunan makanan massal di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), terus menjadi perhatian. Hingga Jumat (3/10) pagi, Dinas Kesehatan Kabupaten Agam mencatat sebanyak 119 orang menjadi korban keracunan makanan usai menyantap hidangan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian, menjelaskan bahwa data ini diperoleh dari sejumlah puskesmas dan rumah sakit di wilayah tersebut.

“Ini data dari puskesmas dan rumah sakit. Tidak ada penambahan korban pada Kamis (2/10) malam sampai Jumat (3/10) pagi,” kata Hendri.

Dari total 119 orang yang terdampak, sebanyak 20 orang masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung. Sementara 99 orang lainnya telah mendapatkan rawat jalan dan sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing.

Mudah-mudahan mereka sudah ada yang sembuh dan bisa pulang ke rumah pada Jumat (3/10) siang. Kondisinya sudah membaik dan kita berharap korban bisa pulang siang nanti,” tambah Hendri.

Korban yang sudah membaik sebelumnya mendapatkan perawatan di Puskesmas Manggopoh, Puskesmas Lubuk Basung, RSUD Lubuk Basung, serta Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Rizki Bunda.

“Kita langsung merawat korban sesampai di Puskesmas dan RSUD Lubuk Basung, sehingga korban bisa segera pulih,” ungkapnya.

Kasus keracunan makanan ini diduga berasal dari nasi goreng yang disajikan dalam program MBG oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Tangah, Kecamatan Lubuk Basung. Para korban merupakan siswa TK, SD, SMP, MTs, guru, orang tua, hingga balita yang tersebar di Nagari Manggopoh dan Kampung Tangah.

“Korban mengalami pusing, mual, sakit perut dan mencret beberapa jam usai menyantap nasi goreng itu, sehingga dibawa ke pusat pelayanan kesehatan oleh pihak keluarganya,” jelas Hendri.

Hingga kini, kasus keracunan makanan massal di Agam tersebut masih dalam proses penanganan danevaluasi oleh pihak terkait.(ant)


AGAM - Pemekaran nagari di Agam, Sumatera Barat (Sumbar), untuk 13 nagari baru masih menunggu proses verifikasi lapangan dan dokumen dari tim pemerintah pusat.

Proses ini menjadi tahap akhir sebelum nagari-nagari tersebut mendapatkan nomor desa dan status definitif.

"Kami masih menunggu jadwal tim tersebut melakukan verifikasi lapangan dan dokumen ke 13 nagari," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) Kabupaten Agam, Handria Asmi, Senin (25/8/2025).

Menurut Handria, seluruh persyaratan pemekaran nagari sudah lengkap dan telah diserahkan ke pemerintah pusat.

“Berkas yang dibutuhkan sudah selesai. Mudah-mudahan tahun ini selesai verifikasi lapangan dan verifikasi dokumen,” ujarnya.

Adapun 13 nagari yang menunggu pemekaran tersebut yakni Nagari Sungai Jariang Lubuk Basung, Kandih Lubuk Basung, Parik Panjang Lubuk Basung, Sangkia Lubuk Basung, Surabayo Lubuk Basung, Tigo Koto Silungkang Timur, Aro Pandikia, Gadut Barat, Gadut Timur, Koto Tangah Koto Malintang, Koto Tangah Lamo, Koto Sidang Koto Laweh, dan Koto Tangah Tujuh Nagari.

Proses pemekaran nagari di Sumatera Barat ini tinggal dua tahap, yaitu verifikasi lapangan dan verifikasi dokumen.

Setelah itu, Kementerian Dalam Negeri akan mengeluarkan nomor desa, sehingga nagari baru tersebut resmi menjadi nagari definitif.

Handria menjelaskan, 13 nagari tersebut merupakan usulan tahap kedua yang diajukan pada 2018 dan 2019. Sementara pada tahap pertama, 10 nagari sudah disetujui dan memiliki nomor desa resmi.

Namun, proses pemekaran tahap kedua sempat tertunda akibat adanya moratorium dari pemerintah pusat setelah Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, dan Pilkada.

Jika proses ini rampung, Kabupaten Agam akan memiliki lebih banyak nagari untuk memperkuat pelayanan publik dan mempercepat pembangunan wilayah. Pemekaran nagari diyakini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan di daerah yang memiliki wilayah luas seperti Agam. (ant)


SOLOK - Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Alam Belukar menemukan bonggol atau calon bunga Rafflesia Arnoldi di Hutan Aia Tumbuk Aia Bareh, Nagari Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar).

Penemuan ini menjadi kabar gembira karena bunga langka tersebut diperkirakan akan mekar dalam beberapa hari ke depan.

Koordinator Pokdarwis Alam Belukar Saniangbaka, Muhammad Rizki, mengatakan pihaknya telah menemukan empat bunga Rafflesia Arnoldi yang mekar sepanjang tahun 2025.

Namun, ia mengakui pemantauan tidak dilakukan secara rutin karena keterbatasan waktu.

"Soalnya kita tidak begitu aktif di tahun ini dikarenakan kesibukan di pekerjaan lain. Jadi sebagian banyak yang mekar tanpa sepengetahuan kami," kata Rizki, Senin (18/8/2025).

Menurut Rizki, jika pemantauan dilakukan lebih intens, kemungkinan jumlah bunga yang berhasil terpantau mekar bisa mencapai tujuh hingga sembilan bunga pada tahun ini. Ia menambahkan ada dua bunga yang gagal mekar akibat kondisi inang yang tidak mendukung.

Dari hasil pemantauan terbaru, tim menemukan delapan titik lokasi bunga bangkai di Hutan Aia Tumbuk. Dari jumlah tersebut, lima bunga Rafflesia Arnoldi berhasil mekar, namun hanya dua yang terpantau.

Selain itu, di Hutan Aia Lasi terdapat tiga titik potensi bunga, di Bukik Tabuh-Tabuh satu titik, di Gaduang Beo tiga titik (satu mati), di Rimbo Munti satu titik, serta di Kapau Aia Bareh dua titik yang saat ini tidak lagi terpantau.

"Kendala kami saat ini lebih ke tidak adanya waktu luang. Jika ada tamu yang menanyakan, baru dilakukan pemantauan. Kalau tidak ada biasanya kita biarkan mekar sendiri tanpa dipantau lagi," ucap Rizki.

Ia menegaskan pemantauan kembali dilakukan menjelang meningkatnya kunjungan wisatawan pada Agustus hingga September, karena banyak turis yang tertarik menyaksikan keindahan Rafflesia Arnoldi secara langsung.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) masih berupaya memberikan dukungan program untuk Pokdarwis Alam Belukar. Rizki berharap kelompoknya terus berkembang dan aktif menjaga kelestarian bunga langka tersebut.

"Untuk Kelompok Belukar, saya berharap agar terus berkembang dan aktif sampai ke generasi berikutnya. Namun kalau untuk pemerintahan, semoga dianggarkan untuk pengembangan bunga Rafflesia Arnoldi," katanya. (ant)


PASAMAN - Aksi seorang bidan bernama Dona menyeberangi sungai dengan cara berenang viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukannya untuk membantu warga yang sedang sakit, sedangkan jembatan utama ke daerah tersebut terputus.

Dalam video yang beredar, Dona tanpa pikir panjang melompat ke sungai sembari memikul tas yang berisikan obat-obatan dan peralatan medis. Bidan berusia 46 tahun ini lalu berenang, menyeberangi sungai yang cukup deras.

Sungai itu bernama Batang Pasoman di Kenagarian (Desa) Cubadak Barat, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar). Momen detik-detik Dona berenang menantang nyawa ini lalu viral.

Dona menceritakan, ketika itu jembatan yang menjadi akses penghubung warga untuk melintasi sungai, putus total tidak bisa dilalui.

Sementara pada Jumat (1/8/2025) sekitar pukul 10.00 WIB itu, Dona mau tidak mau harus menjalankan tugas pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan. Seorang warga memintanya untuk memeriksa kesehatan akibat penyakit yang diderita.

Untuk menuju ke rumah warga tersebut, jarak yang harus ditempuh Dona sejuah 26 kilometer dari kediamannya di Jorong Setia, Nagari Simpang Tonang Selatan, Kecamatan Duo Koto. Butuh waktu sekitar satu jam.

Dona menjelaskan beberapa hari sebelumnya, pasiennya ini telah menghubunginya untuk meminta pemeriksaan kesehatan. Namun ketika itu, ia sedang melaksanakan pelatihan di Pekanbaru, Riau.

"Setelah pulang dari Pekanbaru ini saya langsung berangkat menuju rumah pasien. Saya mengunakan ojek, saat itu kondisi cuaca hujan, sehingga terpaksa memakai mantel hujan," kata Dona, Senin (4/8/2025).

Saat di pertengahan jalan, Dona mendapat kabar bahwa jembatan untuk melintasi sungai putus pada malam harinya. Awalnya, ia berpikir jembatan itu masih bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Namun, prediksi Dona salah. Jembatan tersebut benar-benar putus total, hanya tinggal pondasi yang melintang berkurang kecil. Tidak mungkin dilalui, berlumpur dan licin.

"Saya memutuskan untuk turun ke sungai. Mantel hujan yang saya pakai, saya lepas, pasangkan ke tas saya biar tidak basah. Lalu saya masuk ke sungai dan berenang," ungkapnya.

Dengan kondisi air yang tak tenang dan berwarna coklat, Dona perlahan berenang melewati rintangan. Di seberang sungai, keluarga pasien menanti dengan penuh harapan.

"Ini bicara hati nurani. Ada warga yang membutuhkan tenaga saya. Satu-satunya upaya, ya harus berenang. Awalnya dilarang, mau tidak mau berenang harus saya lakukan," ujar Dona.

Pakaian Kering di Badan

Setelah berhasil menyeberangi sungai dengan cara berenang, Dona disambut oleh keluarga pasien. Kondisi basah kuyup. Pakaian yang ada hanya yang terpakai di badan.

Dingin yang menyertai tidak menghambat langkah Dona. Ia dan keluarga pasien, melanjutkan perjalanan untuk menemui warga yang membutuhkan pertolongannya tersebut.

"Basah-basahan saya sampai di rumah pasien. Karena sebelumnya tidak menyangka seperti ini, sehingga tidak membawa pakaian ganti. Namun ada pertolongan dari Allah sehingga tidak merasa kedinginan," imbuhnya.

Dona baru bisa mengganti pakaiannya yang basah setelah kembali ke rumah. Usai memberikan pemeriksaan kesehatan kepada pasiennya, ia kembali dan sampai ke rumah pada pukul kurang lebih 18.30 WIB.

"Jadi pulang pergi itu mengunakan ojek, ongkos ojeknya saja Rp 400 ribu. Karena waktu yang ditempuh itu memang jauh," kata dia.

Dipercayai Masyarakat

Dona merupakan bidan yang telah bertugas sejak tahun 1999. Lalu, pada 2007, ia berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kini berdinas di Puskesmas Simpang Tonang.

Warga memang sejak dari dulu sangat mempercayai Dona dalam berbagai pemeriksaan kesehatan. Tidak hanya khusus warga di wilayah kerjanya, tapi juga di luar itu.

Sala satunya warga yang mengalami TBC tersebut, sebenarnya bukan masuk di wilayah kerjanya. Namun warga mempercayainya, pengabdian Dona sebagai tenaga kesehatan pun tetap dilaksanakan.

"Saya memang sering dipanggil-panggil oleh warga yang membutuhkan. Bahkan jam 12 malam ada warga yang menelpon, saya datangi," katanya.

Kini, aksi heroik Dona berenang di sungai demi pengabdian untuk warga banyak mendapat pujian. Dan ia awalnya tidak menyangka hal tesebut di-videokan hingga viral.

"Terharu dan pengen nangis, bercampur semuanya. Saya tidak menyangka seperti ini. Semoga ke depan jembatan dan jalan-jalan yang ada dapat diperbaiki. Sehingga jangan ada yang seperti apa yang saya lakukan lagi," pungkasnya.(suarasumbar)


PADANG - Akses jalan di Tanjakan Panorama I, segmen jalan Padang–Solok, akan ditutup total selama tiga hari. Penutupan dilakukan sehubungan dengan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan badan jalan dalam rangka pembangunan Flyover Sitinjau Lauik.

Penutupan jalan akan dilaksanakan pada 21 hingga 23 Juli 2025, dengan rincian sebagai berikut; penutupan total akses lalu lintas diberlakukan untuk kendaraan di atas roda empat. Buka-tutup lalu lintas diterapkan untuk kendaraan roda dua, tiga, dan empat.

Project Manager Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik 1) dari HK-HKI KSO, Ir Kd Wahyudi Saputra ST MH mengatakan bahwa langkah ini diambil demi keselamatan pengguna jalan serta kelancaran pelaksanaan proyek.

“Pelaksanaan penutupan total dan buka-tutup arus lalu lintas ini bertujuan untuk menjamin keselamatan pengguna jalan serta kelancaran pekerjaan di lapangan,” ujar Wahyudi Saputra dalam surat resmi yang ditujukan kepada Ditlantas Polda Sumatera Barat, tertanggal 18 Juli 2025.

Ia menambahkan bahwa petugas akan ditempatkan di lokasi guna mengatur lalu lintas serta menyediakan rambu-rambu peringatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Lokasi pekerjaan berada di Tanjakan Panorama I, salah satu titik krusial di jalur Padang–Solok yang dikenal rawan kecelakaan. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional pembangunan Flyover Sitinjau Lauik.

Surat tersebut ditandatangani oleh Ir. Kd. Wahyudi Saputra, S.T., M.H., selaku Project Manager Proyek Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik 1) tertanggal 18 Juli 2025. Tembusan surat turut disampaikan kepada Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), dan PPK 2.1 Provinsi Sumatera Barat.

Warga dan pengendara yang melintasi jalur tersebut diimbau untuk memperhatikan jadwal dan pengaturan ini demi keselamatan bersama.

“Kami tempatkan petugas pengatur lalu lintas serta rambu-rambu peringatan sesuai standar yang berlaku. Harapannya masyarakat dapat bersabar demi kepentingan bersama ke depan,” ujarnya.

Sebelumnya, terlihat sejumlah pekerja mengenakan rompi bertuliskan “Flyover Panorama 1 Sitinjau Lauik”, lengkap dengan helm keselamatan dan sepatu proyek terlihat melakukan pengukuran dan penandaan di badan jalan yang akan ditutup total pada 21 hingga 23 Juli 2025 mendatang.

Mereka terlihat di lokasi tikungan tajam jalan tanjakan melakukan pengukuran lapangan menggunakan alat bantu serta melakukan pengecekan struktur jalan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan awal pemeliharaan dan perbaikan badan jalan sebagai persiapan pembangunan flyover yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan lalu lintas ekstrem di kawasan Sitinjau Lauik—yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling rawan kecelakaan di Sumatera Barat.(rpg)


PADANG — Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) II Padang menerima kunjungan dari Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang bersama Sekretaris DPRD Kota Padang. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan silaturahmi sekaligus survei terhadap Goa Jepang yang terletak di bawah Mako Lantamal II.

Rombongan disambut langsung oleh Komandan Lantamal II, Laksamana Pertama TNI Sarimpunan Tanjung, didampingi oleh Wadanlantamal Kolonel Laut (P) Mulyadi, S.E., CRMP., M.Tr.Opsla., Aspotmar Danlantamal, serta Kadispotmar.

Dalam sambutannya, Danlantamal II menegaskan pentingnya merawat dan melestarikan Goa Jepang yang menjadi salah satu saksi sejarah penjajahan Jepang di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Barat. Beliau menyampaikan bahwa situs sejarah tersebut perlu dibersihkan, dipelihara, dan dibenahi secara serius oleh instansi terkait.

"Goa Jepang ini bisa menjadi ikon sejarah Kota Padang dan berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif bagi generasi muda," ujar Danlantamal.

Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara TNI AL dengan pemerintah daerah dalam menjaga dan memanfaatkan situs-situs bersejarah sebagai bagian dari pembelajaran sejarah dan pembangunan karakter bangsa.(ril)


PARIAMAN – Pemerintah Kota Pariaman menyambut antusias rencana Kementerian Kebudayaan untuk mengusulkan perayaan Tabuik sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-18 ini dinilai layak mendapat pengakuan internasional karena kekayaan nilai sejarah dan budaya yang dikandungnya.

“Kami menyambut baik niat tersebut, bahkan sudah menemui Bapak Menteri untuk menindaklanjutinya,” ujar Wali Kota Pariaman, Yota Balad, saat dihubungi dari Pariaman, Selasa (8/7/2025).

Menurut Yota, jika Tabuik mendapat pengakuan dari UNESCO, dampaknya akan sangat besar, tidak hanya bagi pelestarian budaya, tetapi juga bagi pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.

Tabuik selama ini sudah menjadi magnet wisata domestik. Jika nanti masuk daftar UNESCO, wisatawan mancanegara pun akan makin tertarik datang ke Pariaman,” ujarnya.

Ia pun mendorong pelaku usaha pariwisata di Pariaman untuk mulai berbenah, meningkatkan standar pelayanan hingga ke level internasional guna menyambut tamu dari berbagai penjuru dunia.

Gelaran budaya yang telah berlangsung ratusan tahun ini dimulai sejak 27 Juni 2025, bertepatan dengan 1 Muharram 1447 Hijriah.

Tradisi Tabuik sendiri memiliki kaitan erat dengan peristiwa terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein, di Padang Karbala, Irak.

Berbagai acara kesenian turut memeriahkan puncak Tabuik, menambah semarak perayaan yang sudah menjadi ikon Pariaman ini. Antusiasme masyarakat dan wisatawan terlihat jelas, memadati area pantai untuk menyaksikan langsung prosesi sakral tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyatakan komitmennya untuk mengusulkan Tabuik sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. "Tabuik ini adalah kekayaan budaya yang luar biasa. Kami berencana untuk segera mengusulkannya ke UNESCO agar diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia," ujar Fadli Zon di lokasi acara.(***)


BUKITTINGGI - Kuda legendaris milik Pemerintah Kota Bukittinggi, Fort De Kock, dikabarkan mati pada Kamis (10/7/2025) sekitar pukul 11.30 WIB.

Kabar duka ini menyelimuti kalangan pecinta kuda pacu, terutama karena Fort De Kock dikenal sebagai pejantan unggulan yang menghasilkan keturunan juara di lintasan pacuan Sumatera Barat dan nasional.

Kepala Dinas Pertanian Bukittinggi, Hendry mengatakan, Fort De Kock telah berusia 19 tahun saat menghembuskan napas terakhirnya.

"Kuda ini dibeli oleh Walikota Djufri pada 2008 seharga Rp 800 juta dan atu-satunya aset kuda pejantan milik Pemkot," kata Hendry.

Menurut Hendry, penyebab pasti kematian kuda asal Australia tersebut belum diketahui. Namun, selama dua pekan terakhir Fort De Kock menunjukkan gejala demam.

“Kami sudah melaporkan kematian ini ke Wali Kota. Kuda akan dikubur dengan pengawasan tim forensik dan laboratorium hewan. Beberapa bagian tubuh juga akan diambil untuk pemeriksaan,” jelasnya.

Fort De Kock secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. Dalam dua tahun terakhir, kekuatan fisiknya terus menurun.

“Hasil labor terakhir menunjukkan HB tinggi dan terdapat pembengkakan di bagian kaki. Kuda ini sempat mendapatkan infus dua botol,” imbuh Hendry.

Kabar meninggalnya kuda legendaris ini langsung mengundang kehadiran mantan Wali Kota Bukittinggi, Djufri, ke kantor Dinas Pertanian. Ia merupakan sosok yang mendatangkan kuda tersebut ke Bukittinggi.

“Tentu saya berduka. Saya yakin seluruh pecinta kuda pacu juga merasakannya. Fort De Kock telah banyak mengharumkan nama Bukittinggi lewat prestasi luar biasa dari keturunannya,” kata Djufri.

Fort De Kock memiliki postur gagah dengan tinggi mencapai 170 cm. Dari keturunannya, lahir banyak kuda pacu juara yang menorehkan prestasi di berbagai ajang, termasuk arena nasional.

Seorang peternak kuda di Bukittinggi, Oskar Mentoih, mengungkapkan nilai Fort De Kock bisa mencapai Rp 2,5 miliar jika dikalkulasikan dengan harga saat ini.

“Kami sangat kehilangan. Semoga ke depan ada lagi pejantan tangguh yang bisa menggantikan Fort De Kock,” ujarnya.

Fort De Kock masih dikenang sebagai pionir kebangkitan kuda pacu Bukittinggi, menjadi bagian penting dalam perjalanan olahraga balap kuda di Sumatera Barat. Meninggalnya kuda ini bukan hanya kehilangan secara fisik, namun juga secara historis dan simbolis bagi pecinta kuda pacu Indonesia. (ant)


PADANG - Kematian seekor anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatera) di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi menambah daftar kekhawatiran konservasi spesies langka tersebut.

Anak harimau berjenis kelamin jantan ini dinyatakan mati pada 1 Juni 2025 akibat malanutrisi dan dehidrasi, setelah induknya berhenti menyusui.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar), Hartono, mengonfirmasi bahwa kematian anak harimau yang baru lahir itu merupakan kejadian tragis yang disebabkan kurangnya asupan nutrisi dan cairan tubuh.

"Pada 1 Juli pukul 09.00 pagi, berdasarkan hasil pemeriksaan, anak harimau sumatera ini dinyatakan mati oleh tim medis," ujar Hartono di Padang, Rabu (2/7/2025).

Menurut Hartono, hasil nekropsi memperkuat dugaan tersebut. Pemantauan CCTV menunjukkan bahwa induk harimau tidak menyusui anaknya selama beberapa hari sebelum kematian terjadi.

"Anak harimau yang mati di TMSBK Bukittinggi karena mengalami malanutrisi dan dehidrasi," tegasnya.

Anak harimau itu lahir pada 24 Juni 2025 pukul 03.00 dini hari dan sejak kelahiran telah ditempatkan satu kandang dengan induknya.

Pengawasan ketat dilakukan melalui kamera pengintai karena induk harimau tidak bisa didekati oleh petugas.

Namun, situasi berubah pada 29 Juni ketika petugas melihat adanya indikasi stres pada induk harimau.

Anaknya kerap dipindahkan dengan cara digigit—tanda-tanda yang menunjukkan ketidaknyamanan dan potensi ancaman bagi keselamatan si anak harimau.

Karena induk harimau menolak menyusui selama dua hari berturut-turut, tim medis akhirnya memutuskan mengevakuasi anak harimau tersebut.

Tim medis berkoordinasi dengan kami BKSDA Sumatera Barat menyatakan bahwa anak harimau harus dievakuasi dari induknya," tambah Hartono.

Pasca evakuasi, petugas mencoba memberikan susu kambing sebagai pengganti, namun nyawa anak harimau tidak tertolong.

Dugaan Kelainan Genetik

Fakta lain yang terungkap dari penyelidikan adalah bahwa anak harimau yang mati tersebut merupakan generasi keenam dari pasangan induk harimau bernama Bujang Mandeh dan Yani.(***)


AGAM - Manampuang (menampung) menjadi tradisi unik dalam prosesi membagikan daging kurban tanpa kupon saat Idul Adha yang tetap dipertahankan di daerah Gadut, Kabupaten Agam.

Ratusan warga di Jorong Aro Kandikia terlihat berbaris di pinggir jalan untuk mengikuti Tradisi Manampuang, Sabtu ( 7/6/2025).

Tradisi turun-temurun ini menjadi satu-satunya di Kabupaten Agam, yang membagikan daging secara langsung dan merata kepada semua peserta, tua maupun muda.

"Sudah ada sejak zaman nenek moyang. Kami waktu kecil dulu juga ikut Tradisi Manampuang, sampai sekarang masih dilestarikan," kata Anita (56) warga setempat, melansir Antara, Minggu( 8/6/ 2025).

Dalam Manampuang, warga membawa beragam wadah seperti keranjang, ember, atau kantong plastik untuk menampung potongan daging.

Prosesi berlangsung di sepanjang jalan sejauh 100 meter dari Surau Baru Aro Kandikia.

"Tahun ini, sebanyak 5 ekor sapi disembelih, meningkat dari 3 ekor pada 2024," kata Ketua Panitia Kurban A. Datuk Gadang (71).

Dirinya mengatakan bahwa tradisi ini sengaja dipertahankan untuk memastikan seluruh warga, termasuk yang tidak kebagian kupon di tempat lain, tetap mendapat daging.

"Peserta kurban berasal dari jamaah surau dan warga lokal, total 35 orang," ucapnya.

Keunikan Manampuang juga terlihat dari kesiapan warga mengolah daging.

Dahulunya warga menggunakan daun talas atau pisang sebagai wadah, namun sekarang pakai plastik atau keranjang anyaman.

"Tradisi ini tidak hanya tentang pembagian daging, tetapi juga mempererat kebersamaan dan melestarikan kearifan lokal di hari raya," kata warga bernama Novita.(***)


BUKITTINGGI – Satu tahun setelah peresmian meriah oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, Stasiun Lambuang Bukittinggi yang digadang-gadang sebagai ikon kuliner terbesar di Sumatera Barat kini tutup usia. Proyek yang pernah dijanjikan sebagai magnet wisata kuliner itu justru berujung kerugian dan pemborosan anggaran.

Pemerintah Kota Bukittinggi secara resmi menghentikan kontrak sewa lahan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), pemilik aset eks Stasiun Bukittinggi. Biaya kontrak senilai Rp2,3 miliar per tahun yang diambil dari APBD dinilai terlalu besar jika dibandingkan dengan minimnya pemasukan daerah.

“Sudah setahun berjalan tapi tidak menghasilkan PAD. Bahkan untuk operasional dasar seperti kebersihan dan perawatan, dananya tidak cukup,” ujar Pj Sekretaris Daerah Bukittinggi, Al Amin, Rabu (28/5/2025).

a mengakui bahwa ketertarikan masyarakat untuk berkunjung semakin menurun, pelaku UMKM mulai enggan berjualan, dan Pemkot harus melakukan efisiensi anggaran di tengah tekanan keuangan daerah. Tiga hal inilah yang mendorong keputusan drastis untuk menghentikan operasional Stasiun Lambuang.

Pemkot telah bertemu langsung dengan pihak PT KAI di Jakarta untuk membahas teknis pemutusan kontrak. Sementara itu, kebersihan dan perawatan tetap akan dilakukan oleh Pemkot sambil menunggu kelanjut

“Menjelang ada pihak lain yang mungkin berminat mengelola, kita tetap jaga kebersihan dengan kerja sama PT KAI Sumbar,” tambah Al Amin.

Ketua DPRD Bukittinggi, Syaiful Efendi, mencatat bahwa proyek ini sudah menelan anggaran lebih dari Rp24,5 miliar dalam tiga tahun, termasuk biaya pembangunan dan operasional. Namun, pemasukan yang dihasilkan tak sebanding.

“Selama tiga tahun, pendapatan hanya sekitar Rp180 juta. Dari jumlah itu, hanya Rp2,5 juta berasal dari pedagang. Sisanya dari WC umum dan parkir. Ini jelas tidak sehat,” tegasnya.

PT KAI disebut menyambut baik keputusan Pemkot dan saat ini sedang menyusun formula baru pemanfaatan lahan agar tidak kembali merugi.

Stasiun Lambuang diresmikan pada Maret 2024 oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, bersama anggota DPR RI, Andre Rosiade, dan Wali Kota saat itu, Erman Safar. Harapan besar pernah digantungkan pada proyek ini, namun kenyataannya justru menjadi simbol kegagalan perencanaan dan pemborosan anggaran publik. (ant)


BUKITTINGGI - Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) atau Kebun Binatang Kota Bukittinggi di Sumatera Barat punya penghuni baru, yaitu seekor bayi Harimau Sumatera.

Bayi satwa dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae yang baru lahir itu diketahui berjenis kelamin betina. Bayi itu diberi nama Banun Kinantan.

Dokter Hewan TMSBK Bukittinggi, drh Yoli Zulfanedi di Bukittinggi mengatakan Banun Kinantan lahir pada tanggal 28 Desember 2024. Banun lahir dari pasangan harimau Sumatra indukan bernama Mantagi (10) dan pejantan bernama Bujang Mandeh (12).

Bukittinggi - Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) atau Kebun Binatang Kota Bukittinggi di Sumatera Barat punya penghuni baru, yaitu seekor bayi Harimau Sumatera.

Bayi satwa dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae yang baru lahir itu diketahui berjenis kelamin betina. Bayi itu diberi nama Banun Kinantan.

Dokter Hewan TMSBK Bukittinggi, drh Yoli Zulfanedi di Bukittinggi mengatakan Banun Kinantan lahir pada tanggal 28 Desember 2024. Banun lahir dari pasangan harimau Sumatra indukan bernama Mantagi (10) dan pejantan bernama Bujang Mandeh (12).

"Kelahiran Banun menambah koleksi Harimau Sumatra di TMSBK menjadi delapan ekor. Ini belum termasuk satu ekor harimau Sumatra lagi yang masih dalam masa observasi," katanya.

Sebelumnya, delapan ekor harimau Sumatra di TMSBK adalah Bancah (jantan) berusia 20 tahun, Dara Jingga (betina,16), Bujang Mandeh (jantan, 12), Mantagi (betina,10), Bujang Kinantan (jantan,8), Yani (betina, 8), Boncel (jantan, 7) dan kini bertambah dengan Banun Kinantan, betina yang telah berusia 3,5 bulan.

Selain kedelapan harimau tersebut juga ada Si Mauang, harimau Sumatra betina berusia 3 tahun yang dievakuasi masuk ke TMSBK pada 12 Maret 2025 setelah terlibat konflik dengan warga di Taruyan, Nagari Tigobalai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam.

"Si Mauang bisa jadi dilepasliarkan ke habitatnya atau dirawat di TMSBK Bukittinggi sebagai lembaga konservasi," kata Yoli Zulfanedi.

Dengan beberapa kali kelahiran harimau Sumatera di kebun binatang ini, TMSBK Bukittinggi menunjukkan telah berhasil menjalankan tugas sebagai lembaga yang mengelola konservasi ek-situ (di luar kawasan hutan).

Sementara itu, keeper Harimau bernama Amril mengatakan bayi Banun telah diberi makan daging sapi dan daging ayam. Dalam sehari, Banun bisa menghabiskan setengah hingga sekilo daging ayam maupun sapi.

"Sampai saat ini Banun masih diberi susu dua kali sehari, pagi dan sore. Induknya hanya mau menyusui anaknya selama seminggu sejak lahir," kata Amril.

Banun Kinantan direncanakan akan segera diperkenalkan kepada publik secara resmi oleh Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias pada 28 April 2025 mendatang.

"Banun akan diperkenalkan kepada publik oleh wali kota kita saat acara pertemuan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang diadakan di Bukittinggi nanti. APEKSI merupakan organisasi yang mewakili pemerintah kota di Indonesia," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi Rofie Hendria.

Selain jadi objek wisata andalan di kota Bukittinggi, TMSBK Bukittinggi sebagai Lembaga Konservasi di bawah binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Barat telah membuktikan dapat melaksanakan tugas untuk menjaga, merawat dan mengembang-biakkan harimau Sumatera yang dilindungi dan hampir punah.(tim)


SOLOKSELATAN —Harapan petani jagung di Solok Selatan terhadap bibit jagung unggulan jenis Pioner 32 kini mulai sirna. Bibit yang dulunya jadi primadona karena hasil panennya yang melimpah, kini justru menjadi sumber keluhan.

Firdaus, 38 tahun, seorang petani dari Lubuk Gadang Timur, mengungkapkan bahwa kualitas bibit Pioner 32 yang dulu bisa diandalkan kini telah menurun drastis. Banyak benih yang gagal tumbuh, dan panen pun jauh dari harapan.

"Kami para petani sudah beralih ke jenis bibit lainnya. Sebab Pioner 32 yang sebelumnya betul-betul bibit jagung unggul, sekarang tidak lagi sebagus sebelumnya kualitas benihnya," kata Firdaus, Minggu (13/4/2025) dikutip dari padek.co.

Ia menyebut bahwa biasanya ia bisa memanen 2,5 hingga 3 ton jagung setiap musim. Namun, dalam dua musim panen terakhir, hasil panennya anjlok menjadi hanya 1,2 ton.

Tak hanya jumlah panen yang menurun, ukuran buah jagung pun mengalami penyusutan. "Dulu jagung Pioner besar-besar, sekarang hampir rata-rata kecil. Petani lain juga alami nasib yang sama," tambahnya.

Firdaus menyatakan keprihatinannya, karena jika petani terus mengandalkan Pioner 32, mereka bisa merugi. Harga bibit cukup mahal, namun hasilnya tidak lagi sebanding.

"Satu kantong seberat 5 kg harganya Rp650 ribu. Tapi hasilnya sekarang tidak memuaskan," ucapnya.

Mairadi, petani lainnya, mengungkapkan keluhan serupa. Ia mengatakan sekitar 25 persen benih yang ditanamnya tidak tumbuh sama sekali. Setelah diperiksa, banyak benih yang membusuk di dalam tanah.

"Sebelum lebaran saya tanam 7 kg jenis Pioner 32. Usai lebaran saya sisip kembali sebanyak 2,3 kg. Per kilogram dibeli seharga Rp130-140 ribu, kalau satu kantong Rp650 ribu," jelas Mairadi.

Ia menambahkan bahwa setelah panen mendatang, ia akan mencari alternatif bibit lain. "Kalau kita bertahan, maka kita juga akan rugi. Karena Pioner sudah tidak teruji lagi kualitasnya. Harga mahal, tapi sisi jaminan mutunya tidak ada lagi," pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan mutu terhadap benih yang beredar di pasaran. Bagi petani, ketahanan dan hasil panen adalah segalanya. Ketika benih unggulan tak lagi bisa diandalkan, nasib pertanian jagung di Solok Selatan pun ikut terancam. (***)


LUBUKBASUNG - Seorang anggota Satpol PP Agam dikeroyok puluhan orang saat membubarkan acara hiburan orgen tunggal di kawasan Bandar Baru, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (8/4/2025) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Saat itu, pasukan penegak Peraturan Daerah (Perda) itu sedang menjalankan operasi penertiban.

Personel Satpol PP Agam itu bernama Joni Putra. Dia mengalami luka lebam di bagian kepala, badan, dan kaki akibat dipukuli massa yang diduga berjumlah sekitar 30 orang..

Kejadian ini terjadi ketika petugas berupaya menghentikan acara orgen tunggal yang dinilai telah melanggar Peraturan Bupati Agam Nomor 13 Tahun 2016.

"Kami menerima laporan adanya kegiatan hiburan malam yang melanggar aturan waktu. Ketika anggota datang ke lokasi, terjadi keributan dan salah satu anggota, Joni Putra, menjadi korban pengeroyokan," kata Kepala Bidang Ketentraman Masyarakat Satpol PP Damkar Agam, Yul Amar, dikutip dari Antara, Rabu (9/4/2025).

Sebelum kejadian, sembilan personel Satpol PP Agam tengah melaksanakan razia penyakit masyarakat di Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya, menyasar penginapan, kafe, dan hiburan malam.

Saat menuju lokasi hiburan orgen tunggal di Bandar Baru, aparat menemukan acara berlangsung melewati batas waktu yang ditentukan dalam peraturan.

Situasi memanas dan bentrok tak terhindarkan. Sekitar 30 orang massa menyerang Joni Putra, sementara anggota lainnya kesulitan mengendalikan keadaan.

Korban berhasil menyelamatkan diri ke sebuah warung terdekat sebelum akhirnya dievakuasi oleh petugas lain. Laporan resmi telah disampaikan ke Polres Agam pada pukul 05.30 WIB dan korban langsung menjalani visum.

Bupati Agam, Benni Warlis menyayangkan kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa petugas menjalankan tugasnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ia pun menegaskan bahwa tindakan pengeroyokan terhadap Satpol PP Agam tersebut sudah dilaporkan dan proses hukum akan dijalankan.

"Insiden ini telah kami laporkan dan kami serahkan penanganannya kepada pihak kepolisian. Kami juga akan memanggil camat, perangkat nagari, dan panitia hiburan untuk menyelesaikan persoalan ini agar tak terulang kembali," ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Agam, AKP Eriyanto mengatakan, pihaknya telah menerima laporan terkait insiden pengeroyokan anggota Satpol PP Agam dan tengah melakukan penyelidikan.

"Kami sedang mengumpulkan bukti dan keterangan dari saksi di lapangan," katanya.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena menunjukkan tingginya risiko yang dihadapi petugas saat menegakkan Peraturan Bupati Agam terkait larangan hiburan malam di wilayah Lubuk Basung dan sekitarnya.(***)


DHARMASRAYA - Arus balik Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah memasuki puncaknya pada H+6, Minggu (6/4). Ribuan kendaraan memadati Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) wilayah hukum Polres Dharmasraya, mayoritas bergerak menuju Pulau Jawa.

Tak sedikit di antaranya merupakan kendaraan yang berasal dari Jawa dan kini kembali ke tempat asalnya setelah merayakan lebaran di kampung halaman.

Kasat Lantas Polres Dharmasraya, AKP Zamrinaldi, mengungkapkan kondisi terkini arus lalu lintas dari lokasi perbatasan antara Kabupaten Dharmasraya (Sumbar) dan Kabupaten Muaro Bungo (Jambi).

Ia turun langsung ke lapangan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan pemudik dalam momen arus balik tahun ini.

“Puncak arus balik kami prediksi terjadi pada Minggu (6/4/2025), dengan perkiraan sekitar 8.300 unit kendaraan akan melintas di wilayah hukum Polres Dharmasraya. Sebenarnya, sejak Sabtu (5/4/2025), arus kendaraan sudah mulai padat. Dan mulai pukul 00.15 WIB Minggu dini hari, arus makin ramai. Bahkan, untuk sekadar menyeberang jalan saja sulit,” ujar Zamrinaldi disadur dari padek.co

Meski lonjakan volume kendaraan begitu tinggi, pihak kepolisian tetap siaga penuh melalui Operasi Ketupat Singgalang 1446 H.

Operasi ini digelar untuk menjamin keamanan, keselamatan, dan kelancaran lalu lintas selama masa mudik dan arus balik lebaran.

“Alhamdulillah, khusus di wilayah hukum Polres Dharmasraya, sampai hari Minggu (6/4), tidak tercatat adanya kecelakaan lalu lintas. Ini patut kita syukuri. Kami berharap situasi kondusif ini terus terjaga hingga seluruh pemudik kembali dengan selamat ke perantauan,” tutupnya.

Dengan intensitas arus balik yang terus meningkat, para pengendara diimbau tetap waspada, mematuhi rambu lalu lintas, dan menjaga kondisi kendaraan agar perjalanan pulang tetap aman dan nyaman.(***)


BUKITTINGGI - Ratusan tenaga honorer di lingkungan Pemerintah Kota Bukittinggi harus menerima kenyataan pahit di tengah perayaan Idulfitri.

Sebanyak 947 pegawai tenaga kontrak di lingkungan Pemkot Bukittinggi resmi dirumahkan sejak awal April 2025. Kebijakan ini diambil sebagai tindak lanjut aturan yang dikeluarkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan kebijakan nasional dan bukan berasal dari pemerintah daerah.

“Ini menjadi masalah nasional, semua ditentukan dari kementerian dan bukan kebijakan gubernur atau wali kota. Di Bukittinggi ada 947 tenaga kontrak atau honor yang belum masuk database terpaksa dirumahkan mulai awal April,” ujarnya.

Meski begitu, Pemkot Bukittinggi berupaya mencari solusi agar para tenaga honorer tetap dapat bekerja. Salah satu langkah yang tengah disusun adalah skema perekrutan kembali melalui sistem outsourcing.

“Kami melakukan penyusunan aturan baru sebagai langkah solusi bagi mereka. Ratusan pegawai itu diprioritaskan melalui jalur outsourcing atau pihak ketiga,” kata Ramlan.

Pemkot Bukittinggi menegaskan bahwa keputusan ini sepenuhnya mengikuti ketentuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Ramlan juga menekankan bahwa kebijakan ini tidak berkaitan dengan kepentingan politik.

“Kami sudah menerima pemberitahuan tertulis juga dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Kami tidak ingin menyalahi aturan,” tegasnya.(***)


MASJID Al Huda Silayang bukan sekadar rumah ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan peradaban Islam di Lubukbasung, Kabupaten Agam. 

Berdiri sejak 1952, masjid ini menjadi masjid yang paling tua di Lubukbasung Agam. Berdiri di perbukitan Nagari Silayang, Lubukbasung, Agam masjid ini menjadi sejarah bagaimana salah satu penyebaran agama islam di Lubukbasung. 

Dikutip dari padek.co, sudah setengah abad lebih, Masjid Nurul Huda menjadi saksi sejarah perkembangan agama dan sosial masyarakat setempat. Masih tetap berdiri kokoh nuasa lampau, tanpa sentuhan arsitektur modern.

Ketua Pengurus Masjid Al Huda, Suparman menegaskan bahwa peran masjid ini jauh melampaui fungsi ibadah semata.

“Masjid ini bukan hanya tempat salat, tapi juga tempat berkumpul masyarakat. Dulu dan sekarang, berbagai kegiatan keagamaan, sosial, hingga musyawarah kampung berlangsung di sini,” ujar Suparman.

Berdasarkan cerita para sesepuh kampung, Masjid Al Huda Silayang didirikan sebagai wujud kebutuhan masyarakat akan tempat ibadah yang representatif. Pada masa itu, Lubukbasung masih berupa daerah yang belum banyak memiliki fasilitas umum, termasuk tempat ibadah yang memadai.

Para tokoh masyarakat bersama-sama mengumpulkan dana dan tenaga untuk membangun masjid ini. Kayu-kayu pilihan ditebang dari hutan sekitar, sementara atapnya masih menggunakan rumbia.

Tidak ada kontraktor besar, hanya gotong royong dan niat tulus untuk memiliki masjid sendiri. Seiring waktu, bangunan masjid mengalami beberapa renovasi.

Dari awalnya berbentuk sederhana dengan dinding kayu, kini telah berdiri megah dengan arsitektur yang lebih modern. Namun, semangat kebersamaan dan nilai-nilai gotong royong tetap melekat pada masjid ini.

Sejak awal berdiri, Masjid Al Huda tidak hanya digunakan untuk ibadah wajib seperti shalat lima waktu dan shalat Jumat. Masjid ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, hafalan Al Quran, dan perayaan hari besar Islam.

Salah satu kegiatan yang rutin diadakan adalah Gebyar Ramadan untuk anak-anak, yang mencakup lomba hafalan surat pendek dan berbagai perlombaan Islami lainnya.

Hal ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda sejak dini. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al Huda juga memiliki peran besar dalam aspek sosial

Masyarakat kerap berkumpul di masjid untuk berbagai kegiatan, mulai dari rapat Posyandu, rapat pemuda, hingga menyelesaikan pertengkaran atau konflik kecil di kampung.

Dalam hal ini, masjid berfungsi sebagai wadah penyelesaian masalah dengan pendekatan agama dan musyawarah. Segala bentuk perbedaan pendapat diselesaikan dengan cara yang damai, sesuai dengan ajaran Islam yang mengedepankan persaudaraan.

Masjid juga menjadi pusat koordinasi bagi kegiatan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Banyak program kesejahteraan rakyat (Kesra) yang bermula dari masjid ini, termasuk bantuan untuk kaum dhuafa dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Selain itu, masjid ini juga sering menjadi tempat studi bagi mahasiswa dari Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka datang untuk melakukan penelitian tentang kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat di Lubukbasung.

“Beberapa kali kami menerima tamu mahasiswa dari UNP Padang yang ingin mengkaji langsung bagaimana peran masjid dalam kehidupan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Masjid Al Huda memiliki nilai historis dan sosial yang penting,” tambah Suparman.

Peran Masjid Al Huda tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, seperti Pondok Pesantren (Ponpes), Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta tokoh-tokoh pendidikan dan keagamaan.

Sebagai salah satu masjid tertua di Lubukbasung, Masjid Al Huda memiliki nilai sejarah yang tinggi. Keberadaannya selama lebih dari tujuh dekade menjadi bukti bahwa masjid bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga pusat spiritual dan sosial bagi masyarakat.

Suparman berharap bahwa generasi muda tetap menjaga keberlangsungan masjid ini.(***)


LIMAPULUHKOTA - Ruas jalan provinsi di Kabupaten Limapuluh Kota, khususnya jalur Pangkalan hingga Galugua, mengalami kerusakan parah di sejumlah titik.

Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah jalan terban di Jorong Tanjuang Jajaran, Nagari Galugua, yang nyaris putus total dan berpotensi mengisolasi ratusan warga.

Kondisi ini diungkapkan oleh sejumlah warga di Kecamatan Pangkalan dan Kapur IX, serta dikonfirmasi oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota, Rahmadinol, melalui pesan WhatsApp, Senin (24/3/2025) dilansir padek.co

“Ada jalan yang nyaris putus, jembatan kayu tidak layak dilewati, serta lubang-lubang besar. Kami berharap Pemprov Sumbar segera menanganinya agar jalan kembali lancar,” ujar Rino Hendriko, warga Pangkalan Koto Baru.

Kekhawatiran serupa disampaikan Patria, warga Kapur IX. “Jika tidak segera diperbaiki, kerusakan akan semakin parah. Jangan tunggu sampai benar-benar putus baru bertindak,” tegasnya.

Rahmadinol membenarkan bahwa setidaknya ada tiga titik kerusakan terparah di ruas jalan Provinsi Sumatera Barat (ruas P.076) yang memerlukan penanganan segera.

“Dinas PU Provinsi sudah meninjau, teknis perbaikannya menjadi kewenangan mereka,” jelasnya.

Sebelumnya, Wali Nagari Galugua, Wendriadi, telah meminta perhatian Pemprov Sumbar untuk segera memperbaiki jalan terban menuju Jorong Tanjuang Jajaran. Jalan ini sangat vital sebagai akses transportasi utama warga.

“Kami sudah kehabisan cara meminta perhatian Pemprov. Bahkan sebelumnya, kami dan sejumlah tokoh sudah menghadap langsung ke Gubernur Mahyeldi, tetapi belum ada hasil maksimal,” ujar Wendriadi dengan nada kesal.

Warga dan pemerintah setempat berharap Gubernur Sumbar segera memprioritaskan perbaikan jalan ini sebelum kondisi semakin memburuk dan mengancam mobilitas masyarakat. (***)


PADANG –PT Hutama Karya (Persero) akan mengoperasikan tiga ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) secara fungsional selama periode arus mudik dan balik Lebaran 2025. Pengoperasian ini berlangsung mulai 24 Maret hingga 10 April 2025 setiap hari pada pukul 08.00-17.00 WIB.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap peningkatan volume kendaraan yang signifikan selama periode mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Tiga ruas tol yang akan dibuka meliputi Jalan Tol Pekanbaru-Padang Seksi Sicincin-Padang (35,90 kilometer), Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Seulimeum-Padang Tiji (23,95 kilometer), dan Jalan Tol Palembang-Betung Seksi 2 GT Rengas/Musi Landas-Pangkalan Balai (30,67 kilometer).

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), Adjib Al Hakim, menekankan bahwa pengoperasian fungsional ini memiliki ketentuan khusus.

"Fungsional hanya diperuntukkan bagi kendaraan Golongan I (non-bus), seperti mobil pribadi dan kendaraan kecil lainnya dengan kecepatan maksimum 40 km/jam. Sementara itu, kendaraan berat seperti truk, bus, dan kendaraan non-Golongan I tidak diperbolehkan melintas," ujarnya, Sabtu (22/3/2025).

Pengoperasian ketiga ruas tol tersebut akan dilaksanakan berdasarkan diskresi kepolisian untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan selama periode pengoperasian fungsional.

Dalam implementasinya, ketiga ruas tol akan menerapkan skema yang berbeda. Untuk Tol Palembang-Betung Seksi 2 akan menggunakan skema satu arah, yaitu dari arah Palembang menuju Jambi pada saat arus mudik, dan dari arah Jambi menuju Palembang ketika arus balik.

Berbeda dengan ruas tersebut, dua ruas lainnya akan mengoperasikan skema dua arah. Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 akan menerapkan sistem dua arah baik dari Seulimeum menuju Padang Tiji maupun sebaliknya. Hal serupa juga diterapkan pada Tol Pekanbaru-Padang Seksi Padang-Sicincin yang akan menggunakan skema dua arah, baik dari Padang menuju Sicincin maupun arah sebaliknya.

Demi memberikan pengalaman perjalanan yang optimal, PT Hutama Karya (Persero) telah melakukan berbagai persiapan fasilitas pendukung. Persiapan tersebut mencakup peningkatan frekuensi patroli, pemasangan rambu-rambu tambahan, serta penguatan koordinasi dengan pihak Kepolisian dan instansi terkait lainnya.

"Kami menghimbau seluruh pemudik untuk mempersiapkan diri sebelum melintas dengan memastikan memiliki kartu uang elektronik serta dalam kondisi fisik yang prima," kata Adjib.

Pihak Hutama Karya juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas selama menggunakan tol fungsional. Para pemudik diminta untuk mematuhi batas kecepatan fungsional, mengikuti petunjuk rambu dan papan informasi yang telah disediakan, serta menaati arahan dari petugas di lapangan, termasuk petugas tol, kepolisian, dan dinas perhubungan agar perjalanan dapat berjalan dengan lancar.

"Apabila terdapat keluhan atau terjadi keadaan darurat di jalan tol, segera laporkan ke Call Centre masing-masing ruas tol," tambah Adjib Al Hakim.

Pengoperasian fungsional tiga ruas tol ini merupakan bagian dari strategi PT Hutama Karya dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2025. Dengan dibukanya tol secara fungsional, diharapkan dapat membantu mengurangi kemacetan dan menyediakan alternatif jalur bagi para pemudik, khususnya di wilayah Sumatera.(***)


PADANG - Arisal Aziz, atau yang akrab disapa Josal, menepis isu yang menyebut dirinya tengah mengincar jabatan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional Sumatera Barat (DPW PAN Sumbar) yang saat ini dijabat Indra Dt Rajo Lelo.

Anggota DPR RI Komisi XIII ini menegaskan bahwa dirinya menghormati mekanisme partai serta sosok Indra Dt Rajo Lelo sebagai Ketua DPW PAN sekaligus keluarga.

“Tidak benar jika saya mengincar jabatan Ketua DPW PAN Sumbar. Saya menghormati seluruh mekanisme yang ada di partai dan tentunya saya juga menghormati beliau (Indra Dt Rajo Lelo) baik sebagai Ketua DPW maupun sebagai mamak (paman),” ujar Josal kepada media, Selasa (28/01/2025).

Arisal Aziz menegaskan bahwa seluruh keputusan terkait partai selalu dikomunikasikan terlebih dahulu dengan Ketua DPW. Ia juga mengapresiasi peran besar Indra Dt Rajo Lelo dalam perjalanan politiknya.

“Saya sampai pada titik ini tentu karena ruang dan kesempatan yang diberikan oleh Pak Indra Dt. Rajo Lelo. Begitu juga jika ada dinamika ke depan, hal tersebut pasti saya komunikasikan terlebih dahulu dengan beliau,” tambahnya.

Di luar isu politik, Josal menyampaikan alasan di balik munculnya namanya dalam bursa pemilihan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumbar.

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut murni karena kecintaannya terhadap dunia sepakbola Sumatera Barat dan niatnya untuk memajukan olahraga ini di tingkat nasional.

“Munculnya nama saya dalam bursa pemilihan Ketua Asprov bukanlah karena keinginan pribadi saya semata. Ini juga atas permintaan dari beberapa teman di Askab, Askot, dan pemilik klub,” jelasnya.

Josal menegaskan bahwa langkah ini sudah ia komunikasikan dengan Ketua DPW PAN Sumbar. “Saya telah meminta izin kepada Mak Datuak Indra bahwa saya akan maju ke Pemilihan Ketua Asprov, dan beliau telah mengamini niat baik saya tersebut,” tegasnya.

Pria yang dikenal aktif mendukung perkembangan sepakbola Sumbar ini menambahkan, “Saya mencintai sepakbola. Masa kecil saya diisi dengan bermain bola. Kini saya berpikir untuk berbuat lebih banyak bagi sepakbola Sumbar yang memiliki potensi besar untuk melangkah ke level nasional.”

Kiprah Josal di dunia sepakbola Sumbar sudah tidak diragukan lagi. Melalui klub Josal FC Piaman, ia sukses membawa tim tersebut menjadi Juara Liga 3 Zona Sumbar 2023 dan meraih gelar Juara Nasional Soeratin U-15 tahun 2024.

Selain itu, ia juga tengah merampungkan pembangunan Akademi Sepakbola Berbasis Pesantren pertama di Pulau Sumatera. Akademi ini diharapkan menjadi pusat pembinaan talenta muda di Sumbar, yang memadukan pendidikan agama dan olahraga untuk mencetak generasi atlet berbakat.

Dengan rekam jejak ini, Josal optimistis bahwa kontribusinya dapat membawa perubahan besar bagi sepakbola Sumbar.

“Ini kesempatan besar untuk memajukan sepakbola Sumbar. Saya ingin melihat sepakbola Sumbar berjaya di tingkat nasional, bahkan internasional,” tutupnya. (*)

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.